Gallery

Dari Prolog Hingga Epilog

Prolog :
Tentang mencintai selama ini

“Orang yang jatuh cinta diam -diam hanya bisa mendoakan. Mereka cuma mendoakan, setelah capek berharap ; pengharapan yang ada dari dulu, yang tunbuh dari mulai kecil sekali, hingga makin besar, lalu makin lama semakin menjauh.

Orang yang jatuh cinta diam-diam pada akhirnya MENERIMA.
Orang yang jatuh cinta diam -diam paham bahwa kenyataan terkadang berbeda dengan apa yang kita inginkan. Terkadang yang kita inginkan bisa jadi bukan yang sesungguhnya kita butuhkan. Dan sebenarnya, yang kita butuhkan hanyalah merelakan.

Orang yang jatuh cinta diam – diam hanya bisa, seperti yang mereka selalu lakukan, jatuh cinta sendirian…

Banyak pertengahan cerita cinta tentang semua cinta. Cinta yang abstrak hingga yang nyata. Cinta yang bermula dari pandangan pertama orang lain terhadap kita, hingga perkenalan lewat seorang teman. Cinta yang bermula dari sebuah persahabatan, lalu berubah menjadi tidak saling mengenal lagi…

Hal seperti itu yang biasanya kupakasa untuk kulupakan saat semuanya terasa begitu menyakitkan ketika tiba saatnya aku harus rela melepaskan. Lalu, apa yang harus kita lakukan pada kenangan yang memaksa untuk terus diingat??

Jawabannya hanya ada ketika kau memutuskan sampai di EPILOG :

Aku merasa seperti seekor marmut berwarna merah jambu yang terus – menerus merasakan jatuh cinta. Loncat dari satu relationship ke relationship lainnya. Mencoba berlari dan berlari di dalam roda bernamakan cinta ; seolah – olah maju, tetapi tidak…karena sebenarnya jalan di tempat.

Entah sudah berapa kali aku menyukai seseorang sebelum bertemu DIA. Entah berapa kali patah hati, dikecewakan, berantem, cemburu yang aku alami sebelum bertemu DIA. Entah berapa kali ditembak, putus – (nyambung) ; seolah – olah aku berlari dari satu hubungan gagal ke hubungan gagal lainnya. Seperti marmut yang tidak tahu kapan harus berhenti berlari di roda yang berputar.

Dan dalam hubungan kali ini, setiap kali aku (akhirnya berani) memandangi DIA, pertanyaan besar itu muncul :

APAKAH SEKARANG SAATNYA BERHENTI BERLARI??”

untuk mereka yang pernah hadir dari awal :
– I..
– R..
– A..
lalu dengan segala kerelaan aku mengatakan “Terima kasih karena telah mengajariku tentang konsep memiliki dan kehilangan. Tentang menerima dan melepaskan. Dan terima kasih untuk semua kisah yang tak terbayar dengan apapun. Aku mernah menyayangi kalian sebelum akhirnya aku memutuskan :

untuk yang tak terganti :
I..
(sebuah epilog)
dan aku akan berhenti.

Ketika hati ini tetapkan pilihan.adakah kuasa diri tuk coba abaikan.selalu kukatakan engkaulah yang terjaga.dalam setiap langkah kau tuntun mimpiku.meski waktu datang dan berlalu.kau takkan lekang dan terganti…selamanya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s